oleh

Mengapa Pertanian Batak Belum Maju?

Justan Siahaan (Dirjen Kementan)

BORBOR.NET Kawasan Danau Toba sangat subur.  Kami gencar mempublikasikannya dan paling tidak dua kali Presiden Jokowi sudah hadir di sana tetapi mengapa tidak nyata juga kelihatan hasilnya? Mengapa berbeda dengan lahan di Jawa, begitu pertanyaan rekan semobilku yang datang dari Amerika, kemarin 31 Juli 2020.

Ternyata jawabannya sederhana. Kebanyakan Orang Batak hanya senang dengan status punya lahan di sana. Ini terkonfirmasi dengan komentar Bupati Humbanghas, Dosmar Banjarnahor Kamis 30 Juli, sehari sebelumnya di kantornya.

Kami lanjutkan berkeliling ke Paranginan, Silando, Tampahan dan Hutaginjang. Banyak lahan diberi dengan merek lahan ini punya A, A, A, A, punya B, B, B, C, C hingga Z atau dikenal orang si itu itu saja. Anehnya, jika kita minta sewa untuk kita olah, sewanya selangit atau tidak mau karena susah mendapat kesepakatan keluarga.

Satu hal penting, banyak lahan tidak bisa diolah karena tidak ada petaninya. bahkan lahan HKBP pun ada puluhan hektar sudah berpuluh tahun nganggur hanya dihuni onak dan duri karena tidak diolah.

Banyak yang nganggur dan banyak pula yang diolah tak terawat. Tanaman itu, khususnya pangan dan hortikultura, konon ada jiwanya juga. Tak ada yang rawat seenaknya saja dia berbuah. Tak ada tuannya tak berbuah dia tak ada yang marah kira kira begitu.

 Presiden Jokowi, pun menanyakan hal itu. Mengapa belum ada gerakannya? Jawabannya ya itu. Orang Batak sudah cukup bangga punya lahan di bona pasogit.

Untuk rekan, sobatku khususnya yang ada kaitannya dengan Kawasan Danau Toba, ayo berilah tangan ke pertanian di Kawasan ini. Ladang Pertanian  Ladang Pelayanan Tuhan juga.

Salam Kasih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed