oleh

Mesin Penyimpan Cabai Tahan 30 Hari

BORBOR.NET Cabai merupakan salah satu komoditas penyebab inflasi nasional, terlebih di masa pandemi covid-19 karena control yang tidak terus menerus sehingga memperburuk kondisi cabai. Rantai pemasaran yang cukup panjang sedikitnya melibatkan lima stakeholder, mulai dari petani hingga ke tangan konsumen menjadikan tingginya risiko kerusakan cabai.

Diperlukan sistem penyimpanan skala kecil hingga skala menengah yang bisa digunakan oleh petani sebelum produk cabai mereka diangkut ke pasar induk. Menjawab persoalan klasik tersebut, , Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui unit kerja Balai Besar Litbang Pascapanen (BB Pascapanen) telah mengembangkan teknologi proses penyimpanan berbiaya operasional rendah di tingkat primer (petani).

Menurut Kepala BB Pascapanen Dr. Prayudi Syamsuri, mesin penyimpan yang diberinama sistem CAS atau Controlled Atmosphere Storage karya peneliti BB Pascapanen tersebut bisa menyimpan cabai 2 – 3 ton dengan umur simpan 3 – 4 minggu. Selain kapasitas menengah, pihaknya juga menyediakan sistem CAS-Mini berkapasitas 20 kg.

“Mesin ini mengontrol suhu di dalam kabin penyimpanan pada suhu 7 derajat Celsius sehingga mampu memperlambat proses pembusukan,” bebernya.

“Pengaturan gas, monitoring karbon dioksida dan oksigen pada CAS otomatis dilakukan oleh sistem. Konsumsi gas pun irit dan tingkat presisi karbon dioksida dan oksigen termonitor pun sudah jauh lebih baik dari generasi sebelumnya,” terang Prayudi.

Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan mesin penyimpan generasi ketiga yang berkapasitas 2-3 ton. Sehingga bisa menampung cabai petani namun pengumpul sekaligus di sentra produksi

Mesin penyimpan generasi ketiga ini dinamain CAS midi system. Selain kapasitasnya lebih besar, mesin ini juga tidak lagi menggunakan gas tabung atau elpiji (liquefied petroleum gas), namun menggunakan gas generator sehingga biayanya lebih hemat.

 “Dari hasil uji komisioning yang telah kita lakukan, cabai keriting yang diaplikasikan denga teknologi CAS dapat bertahan selama 30 hari dengan tingkat kerusakan dibawah 10%,” kata Fadjry.

Lebih lanjut Fadjry mengatakan, mesin penyimpan CAS midi system diharapkan bisa memenuhi kebutuhan penyimpanan di tingkat sentra produksi saat harga cabai jatuh. Selain itu juga dapat menjadi penyangga stok saat pasokan cabai bergejolak.

“Kementan siap menyediakan mesin penyimpan dalam jumlah memadai di tingkat sentra produksi cabai,” pungkasnya. (Sumber: Kemtan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed